Minggu, 26 Juni 2022

Teori Sistem Dunia dalam Pembangunan Nasional Indonesia

Teori Sistem Dunia dalam Pembangunan Nasional Indonesia



Pengritik menuduh bahwa analisis-analisis sistem dunia tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap perkembangan yang khas dari satu lokalitas yang ada. Dengan kata lain para pemerhati teori sistem dunia dalam usahanya untuk mengamati dinamika global, mengabaikan bahkan melupakan analisis sejarah perkembangan local yang konkret. Sesungguhnya Teori sistem dunia tetap terbuka peluang untuk menguji sejarah perkembangan nasional dan local, walaupun perhatian teori sistem dunia diletakkan pada pengujian dinamika global, ini tidak berarti konfirmasi larangan bagi peneliti yang menggunakan perspektif ini untuk menguji arah dan sejarah pembangunan local, nasional, maupun regional. Penelitian yang berskala nasional ataupun local, jika menggunakan pendekatan sistem dunia justru ditemukan penjelasan baru dan segara dan persoalan-persoalan yang using atau lama.

Pengritik menuduh bahwa wallerstein hanya menggunakan analisis stratifikasi sehingga tidak mampu menjelaskan bagaimana pengaruh konflik kelas terhadap arah dan hasil pembangunan nasional. Dalam menanggapi kritik ini Wallerstein mengatakan bahwa saya berfikir Gerakan kelas tidak hanya merupakan sentral dinamika kapitalisme tetapi lebih dari itu secara pribadi saya melihatnya sebagai bagian yang sangat penting dan pokok berisi tentang penjelasan mengapa Gerakan kelas kadang-kadang memiliki bentuk yang berbeda dan bahkan kadang-kadang Nampak mencolok. Belakangan ini nampaknya Wallerstein lebih menyadari pentingnya analisis gerakan kelas bersekala dunia yang dari padanya diharapkan para buruh, yang merupakan produsen langsung dari barang-barang yang di hasilkan, mengarahkan perhatian langsung pada sumber surplus ekonomi yakni pada titik produksinya. Wallerstein dalam pengertian kelas dilihat sebagai satu kelompok aktor politik yang secara sadar hendak selalu mempromosikan kepentingan mereka dalam  tatanan dunia kapitalis. Perspektif sistem dunia ini diharapkan mampu menguji perkembangan sejarah local, dan kemudian mencoba tetap menangkap makna dari kelas sosial yang selalu, dan memang demikian halnya diartikan sebagai salah satu penentu dari proses dan dinamika sejarah.

 

A.  Kondisi Bangsa Indonesia

Keadaan bangsa Indonesia merupakan salah satu Negara tropis yang memiliki luas daratan sekitar 191 juta hektar, terotori laut sekitar 317 juta hektar, memiliki posisi strategis di  mana  jumlah pulau 13-17 ribu dengan garis pantai terpanjang di dunia sekitar 81.000 km,  penduduk 240 juta jiwa, dengan kekayaan alam yang terbaru maupun tidak terbarukan seperti minyak bumi, aluminium, emas, gas alam,tembaga, batubara, nikel, besi dan lain-lain. Kemudian memiliki kekayaan alam laut  yang terbaik di dunia, dan  keanekaragaman hayati nomor 2 di dunia yang jika digabungkan dengan kekayaan alam laut menjadi  nomor 1 di dunia, potensi tanaman pangan 800 spesies dan juga 1000 spesies tanaman medisinal.

Dengan melihat gambaran kondisi tersebut tentunya akan besarnya bangsa ini dapat terwujud dengan ekspektasi sebenarnya, namun dengan melihat keadaan sekarang yang ada malah sebaliknya kita lihat bangsa kita hingga sekarang ini menjadi bangsa yang tertinggal dibandingkan dengan negara lain yang berkembang dan maju, hingga hari ini jangankan untuk bersaing dengan negara-negara besar dunia pertama dan kedua untuk negara dunia ketiga  khususnya yang ada di kawasan Asean indonesia sudah tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga semisal Thailand, Brunai, Vietnam, Malaysia, terlebih lagi Singapura menurut data terakhir UNDP menepatkan sebagai negara  terkaya keempat di dunia saat ini.

Mungkin pertanyaan sering muncul di dalam benak kita masing-masing, lantas ada apa dengan negara kita? Bahwa bagaimana negara kita tidak mampu untuk bangkit mambangun baik dari mental bangsa dengan potensi yang telah digambarkan maupun itu secara fisik. Beberapa tokoh bangsa memberikan pendapatnya seperti mantan wakil presiden Jusuf Kalla, yang berpendapat bahwa upaya bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterbelakannya harus dimulai oleh kepemimpinan/leadership yang tegas dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya membangun semangat warga negara untuk sadar akan posisinya sebagai pilar penting pembangunan. Pendapat lain dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Menurut Anies, ada beberapa komponen bagi pemuda yang ingin mewujudkan kebangkitan bangsa ini. Komponen yang dimaksud oleh Anies terdiri dari karakter, literasi, dan kompetensi. Anies menerangkan bahwa pemuda setidaknya memiliki dua karakter, yakni karakter moral dan karakter kinerja. Selain karakter, Anies juga mengatakan bahwa pemuda harus melek literasi. “Sering-seringlah membuat karangan, karangan itu menumbuhkan imajinasi, kita sering kekurangan imajinasi. Pendapat lainnya dari Syamsul Ma’arif (Tabloid Nasdem), yang beranggapan bahwa bangsa indonesia sudah tidak lagi melihat UUD 1945 sebagai dasar arah pembangunan, di mana yang terjadi menurutnya bahwa beberapa kewajiban-kewajiban pemerintah yang ada pada beberapa pasal sudah tidak dijalankan lagi oleh pemimpin-pemimpin bangsa ini. Pendapat lainnya  dari pakar hukum pidana Prof.Dr. J.Sahetapi (wawancara Metro TV),beranggapan bahwa masalah serius yang dialami bangsa ini untuk menjadi bangsa maju ialah karena mental para pemimpin, aparat yang sudah sesuai dengan norma-norma negara yang ada.

Jika melihat beberapa pendapat di atas bahwa masalah kepemimpinan sangat mempengaruhi bangsa ini dalam mencapai pembangunan yang diimpikan di negara ini, selain itu faktor mental khususnya para pejabat-pejabat pemerintah kita kemudian juga sangat menentukan untuk kembali menata arah-arah dalam memajukan bangsa. Dengan melihat beberapa fenomena yang terjadi di bangsa ini maka penulis menyimpulkan bahwa ada beberapa masalah yang menghambat kemajuan bangsa khususnya dalam bidang pembangunan, yang pertama di bidang politik bahwa tidak 5 dipungkiri bahwa kompleksitas perpolitikan yang sedang terjadi di negara ini sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan pembangunan di Indonesia di mana pengaruh politisasi yang terjadi kemudian melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak efektif dalam arah pembangunan. Adanya pengaruh politisasi ini kemudian menjadi suatu ajang jual beli bagi para pihak-pihak yang memiliki peran ataupun kewenagan yang kuat untuk kemudian mengambil keuntungan dalam proses kebijakan pembangunan. Mereka kemudian menetapkan langkah-langkah yang tidak berorientasi pada kepentingan negara melainkan untuk kepentingan mereka masing-masing. Selanjutnya di bidang ekonomi, walaupun pemerintah telah mengungkapkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi telah mengalami peningkatan hingga 6,7% namun sebenarnya itu hanya secara makro, pemerintah kemudian lalai dalam meningkatkan pemerataan untuk setiap warga Negaranya, di mana data terkhir BPS bahwa tingkat penduduk miskin indonesia masih tinggi yakni 34 juta jiwa lebih dari penduduk indonesia sebesar 240 juta jiwa.

Masih banyak faktor lainnya ialah tingkat penganguran yang masih  terlalu banyak di indonesia nampak tidak di sertai dengan penyediaan lapangan kerja untuk para penganggur di negara kita, dalam konteks ekonomi bahwa masalah oleh perusahaan-perusahaan asing yang sangat merugikan bangsa indonesia, di mana pemerintah kita seakan tidak mempunyai daya upaya untuk  membatasi dan meninjau kembali MOU atau Kontrak kerja dengan pihak asing tentang sistem bagi hasil, makin parahnya kita dengan kekayaan alam yang melimpah tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh bangsa ini dikarenakan ketidaksiapan dan ketersediaan putra-putri bangsa dalam mengelola dengan kapasitas baik itu pendidikan, keterampilan, dan keahlian untuk dapat bersaing dengan tenaga-tenaga asing yang dimilliki oleh perusahaan swasta. Hal ini tentu membuat bangsa kita tertinggal jauh dalam hal kemapuan untuk memproduksi sistem teknologi dalam rangka menghasilkan produk-produk yang berskala industri.

Hal lain bisa kita lihat mental para pemimpin-pemimpin bangsa, pejabat-pejabat negara dan pegawai-pegawai pemerintahan  saat ini yang sangat menghancurkan karakter bangsa. Banyaknya kasus KKN merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dan menghacurkan karakter bangsa dengan Pengaruh besar dalam kemajuan bangsa indonesia itu sendiri. Dana APBN manurut  laporan keuangan Negara yang habis dikorupsi setiap tahunnya mencapai triliunan lebih. Sangat amat disayangkan sekali bila dana negara kemudian habis terpakai oleh segelintir oknum yang berorientasi memperkaya diri sendiri ketimbang memanfaatkan dan itu untuk mengelola beberapa potensi yang ada di negara ini secara profesional dan proporsional guna menghasilkan suatu keuntungan besar yang tentunya akan sangat besar, dan beberapa permasalahan mental lain seperti krisis kepemimpinan untuk para pejabat bahkan pemimpin negara ini yang menjadikan sebuah masalah besar di indonesia. Aspek lain yang kemudian menghambat proses jalannya pembangunan secara efektif di indonesia adalah rendahnya penegakan hukum atau penegakan supermasi hukum di negara ini sejalan dengan kasus-kasus korupsi yang terjadi bahwa kemudian fakta bahwa hukum tidak berjalan sesuai dengan norma-norma hukum itu sendiri,adaanya pembayaran, sogokan dan suap menjadikan hukuman untuk para koruptor di indonesia sangat ringan, hal inilah yang sangat  disayangkan dalam rangka pencapaian pembangunan khususnya pembangunan karakter bangsa.

 

B. Teori Sistem Duni



Pada awal perumusannya, perspektif sistem dunia banyak mengambil dan meggunakan konsep dan kategorisasi teoritis yang dikembangkan oleh teori depedensi, karna itu tidak jarang ilmuwan sosial memberlakukan kedua perspektif tersebut secara tidak berbeda.

Perbedaan kedua perspektif pembangunan:

1.    Unit analisa perspektif sistem dunia ialah sistem dunia itu sendiri. Yang menganjurkan dengan tegas bahwa dunia ini haruslah dijadikan unit analisa, sehingga setiap peristiwa sejarah dunia hendaknya dijelaskan dengan menganalisa akibat-akibatnya bagi sistem dunia secara total dan juga bagian-bagiannya (secara holistik). Sedangkan teori depedensi yang memfokuskan analisanya ada tingkat nasional. Sehingga tidak ada lagi analisa pencirian karakter negara, melihat kelas dan status sebagai bentuk pengelompokan dalam suatu negara.

2.    Analisa dilakukan dengan jangka panjang dan dalam ruang yang luas, dengan harapan dapat memberikan klaim integritas dan otonomi relatif atas ruang dan waktu, yang dimana rentang ruang dan waktu sebagai sistem yang menyejarah (sistem sejarah) ini merupakan sistem yang mempunyai sejarah, awal tahapan perkembangan dan penutup. Perspektif sistem dunia mempelajari dinamika sejarah sistem ekonomi dunia, tidak seperti teori depedensi yang memfokuskan pada masa jaya dan bangkrutnya suatu negara.

3.    Memiliki satu struktur teori yang unik, yang dimana tidak menggambarkan dunia dengan dwi kutub namun dengan tri kutub (sentral, semi, pinggiran). Perumusan konsep semi-pinggiran ini merupakan satu penemuan yang akan membantu dalam memahami dan menguji kompleksitas dunia, selain itu juga menjelaskan secara sistematis kemungkinan terjadinya perubahan posisi naik ataupun turun.

4.     Dari segi arah dan masa depan pembangunan, konsep tiga lapisan ini selamat dari tuduhan model yang deteministik dan kaku, seperti yang dialami teori depedensi yang mengatakan bahwa negara pinggiran akan selalu ada ditempatnya tidak dapat naik.

5.    Perspektif sistem dunia memiliki arena kajian yang lebih luas dibandingkan teori depedensi yang hanya berfokus pada negara pinggiran. Yakni mempelajari negara maju, negara sosialis dan juga kemungkinan disintgrasi dan kehancuran sistem ekonomi-kapitalis dunia ini.

Berlandaskan pada asumsi bahwa setiap proses ekonomi taejadi didalam kerangka sistem ekonomi kapitalis dunia. Wallerstein berpendapat bahwasanya pembagunan dan keterbelakangann suatu wilayah geografis tertentu tidak dapat dianalisa tanpa meletakan wilayah geografi tersebut dalam konteks irama siklus dan kecenderungan perputaran ekonomi dunia secara keseluruhan.

Dikatakan pula bahwasanya dalam sistem ekonomi dunia memiliki 2 perangkat irama siskus. Pertama memiliki siklus Kondratieff dengan fase ekspansi-A dan fase kontraksi-B. yang setiap siklusnya kurang lebih berlansung seitar 40-55 tahun. Kedua memiliki  irama siklus logistik dengan fase  ekspansi–A dan Fase stagnasi-B yang silkusnya lebih panjang kurang lebih 150-300 tahun.

Dengan mengikuti pola pikir tersebut, Wallerstein menguji akibat yang di timbulkan oleh irama siklus yang terjadi tahun 1450-1750an. Menurutnya ialah ekspansi dan kontraksi pada abad pertengahan  terjadi dengan bentuk bangunan yang kurang lebih merata keseluruh dataran eropa, sementara silkus logistic melahirkan gejala adanya bentuk bangunan asimetris (ketimbangan) dari berbagai daerah geografis dibenua eropa. seperti contoh dieropa barat sedang terjadi pergulatan politik sementara dibelahan eropa timur terjadi sebaliknya bahkan di belahan timur feodalisme berkempang pesat disana.

Adapun fokus kajian Wallerstein dalam hal ini adalah lebih memperhatikan pada  fase-B yakni kontraksi dan stagnasi pada abad ke 17 untuk menganalisis munculnya bagunan asismetris tersebut, ia mencoba menguji bagaimana sutu bentuk fase-B yang sama dapat memberikan akibat yang berbeda pada tiga daerah geografis sentral, pinggiran dan semi pinggiran dari tata ekonomi-kapitalis dunia.

1.    Daerah sentral

       Wallerstein melihat bahwa konsesntrasi modal tidak hanya terjadi pada tingkat perusahaan, tetapi juga terjadi pada skala dunia, yakni pada keseluruhan tata ekonomi kapitalis dunia. Fase-B pada kiris abad ke 17 ditandai oleh usaha negara sentral seperti Belanda, Inggris Raya dan Prancis, mencoba menjalankan kebijakan berupa penurunan biaya produksi dengan meningkatkan teknologi produksi seperti pada produksi tekstil dan gandum. Akibatnya produk yang melimpah dari negara sentral eropa barat ini menggeser hasil prooduksi dari negara eropa timur dan selatan.  Pada gilirannya proses ini mengakibatkan mengingkatnya pengpasar negara sentral da pada akhirnya menimbulkan konsentrasi modal pada negara sentral beserta kerugian dan beban biaya ang harus ditanggung oleh negara pinggiran. 

 

2.    Wilayah pinggiran

       Menurut Wallerstein, negara pinggiran pun menerapkan kebijaksanaan penekanan biaya khususnya biaya produksi. Jadi negra pingiran eropa timur ini merupakann pusat perdagangan makanan pokok terbesar didunia pada masanya, kemudian melakukan kebijaksanaan terkait penurunan biaya produksi dengan mengunkanan kombinasi kekuasaan ekonomis dan politik yang mereka miliki terhadap para tenaga kerja di pedesaan . jadi dalam rangka menaikan produksi produsen melakukan pemberhentian sepihak dari perjanjian sewa-meyewa tanah dan kemudian memaksa para bekas penyewa tanah tersebut menjadi budak tenaga kerja paksa, semi paksa atau tenaga kerja upahan.

 

3.    Wilayah semi pinggiran

Pada wilayah negara semi pinggiran, Wallerstein membedakan 2 kategori berdasarkan proses lahirnya. Pertama, lahir dari proses penurunan. Kedua muncul karena proses meningkatnya possi relatifnya.

Pada negara semi-pinggiran yang lahir dari proses penurunan seperti Polandia dan Portugis, mereka mengalami penurunan kapitalis produksinya sekaligus penurunan ppada peran kekuasaan negaranya.  Wallerstein melihat bahwasaanya Portugis secara ekonomis menjadi satelit dan sabuk transisi dari kepentingan seperti pada negara Belanda, Inggirs dan Spanyol menjalankan peran yang sama dengan perancis, yang kemudian melibatkan proses pemindahan besar-besaran investasi modal dari industry ke pertanian.

 

4.    Wilayah luar

       Secara ringkas, Wallerstein memaparkan bahwasanya alokasi peranan dari masing-masing negara didalam sistem ekonomi kapitalis dunia tidak statis. Secara khusus nampaak terlihat pada perubahan posisi yang secara derastis pada fase-B dimana  ditandai oleh suasana stagnasi secara menyeluruh, dan di sisi lain terjadi pula kemungkinan terkait  kenaikan konsetrasi modal disuatu wilayah geografis tertentu, yang pada akhirnya dapat menimbulkan semakin lebarnya plarisasi dan deferensiasi.

 

C. Sistem dunia dalam pembangunan indonesia

Teori sistem dunia (TSD) oleh Emmanuel Wallerstain, mengajukan konsep international division of labor dimana setiap negara memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan posisi mereka di dalam sistem ekonomi dunia. Menurut TSD struktur ekonomi dunia terdiri atas kelompok negara-negara pusat (core), semi-pinggiran (semi periphery) dan pinggiran (periphery). Jika melihat dengan fenomena yang terjadi di Indonesia bahwa TSD sedang berlangsung di Indonesia di mana negara-negara pusat menguasai dominasi pasar bahan mentah pada skala global katakanlah Cina, Amerika dan lain-lain yang kemudian memprosesnya menjadi barang jadi dan mengekspor ke negara-negara lain termasuk indonesia yang notabene sebagai pengekspor bahan-bahan mentah tadi. Selaian itu juga dengan indonesia yang merupakan negara semi pinggiran yang sedang berkembang banyak negara-negara besar yang menempatkan pabrik-pabrik tekstil diindonesia. Seperti baju bola atau jersey pemain dunia itu banyak sekali yang di produksi di indonesia, atau baju merek ternama champion dan HnM itu diproduksi di negara kita indonesia dan ada juga yang kita tau perusahaan besar di papua yaitu PT Freeport yang bergerak di bidang batu bara. Mungkin satu sisi kita bisa melihat bahwa kita dirugikan dengan bahan mentah yang diambil dan dikelolah negara lain, tapi satu sisi lagi kita sadar dengan adanya perusahan-perusahaan besar yang masuk ke indonesia yang membantu dengan membangun perusahaannya disini karena kita tidak bisa mengelolah sendiri keterbatasan teknologi maupun sumber daya yang memadai sehingga dengan adanya perusahaan dan pebrik-pabrik ini tentunya memberika efek untuk pembangunan indonesia. kita bisa lihat dengan adanya itu makan sdm bangsa indonesia dapat disalurkan dengan bekerja diberbagai bidang yang dibutuhkan, selain itu kita juga bisa belajar dan mengambil ilmu dari negara besar mengelola suatu barang menjadi nilai yang berharga. Dengan banyaknya. Perusahaan tentunya sudah pasti berdatangan investor dari negara-negara besar untuk terus membantu pertumbuhan dan perkembangan pembangunan negara indonesia.

Daftar Pustaka :

So, Alvin Y Suwarsono. 1994. Perubahan sosial dan pembangunan. Jakarta : Pustaka LP3ES, 1994.

Budiman, Arief. (1995). Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta : PT. Gramedia Pustakan Utama.

Sulistiowati, Rahayu. Teori Pembangunan Dunia Ketiga Dan Pengaruhnya Terhadap Pembangunan Nasional.

Maiwan, Mohammad. Geografi, Geopolitik, Dan Globalisasi: Suatu Analisa Terhadap Teori Sistem Dunia Immanuel Wallerstein.

 


Kamis, 18 Mei 2017

Kerajinan Bahan Keras



Kerajinan bahan keras adalah kerajinan yang dalam tahap pembuatannya menggunakan bahan yang bersifat keras. Kerajinan bahan keras juga dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Kerajinan Bahan Keras Alami
Kerajinan bahan keras alami adalah kerajinan yang bahan baku pembuatannya masih berasal dari alam atau mengalami pengolahan tanpa mengakibatkan perubahan wujud benda itu. Bahan Keras Alami mudah didapatkan dan relatif murah karena beberapa bahan bisa kita ambil langsung di sekitar kita.

Pria Ini 'Sulap' Limbah Kayu Jadi Produk Bernilai Jual dan Diekspor ke Eropa



detik.com ~Jakarta - Siapa sangka limbah kayu yang bertebaran di sekitar kita bisa digarap menjadi produk yang bernilai jual. Di tangan Made Sutamaya, limbah kayu diolah dan dipoles menjadi produk kerajinan yang cantik dan unik.
Pria asal Bali itu 'menyulap' limbah kayu menjadi berbagai produk mulai dari tempat lampu hingga sofa.

Kiasah Sukses Pengusaha Gerabah

Beni Sukarsa (66 tahun) adalah salah satu pengusaha kerajinan gerabah di Bandung. Ia tergolong seorang pengusaha sukses di bidang usaha kreatif. Studio kerja Beni berada di taman belakang rumahnya di Jalan Hegarsari, Bandung. Studio tersebut tidak berpintu. Di bagian depan sebelah kanan terdapat sebuah tungku pembakaran, di sebelah kanan terdapat beberapa contoh keramik berbentuk rumah yang berfungsi sebagai kap lampu taman.

Lucky, Pengusaha Sukses Jam Tangan Dari Kayu



Pendidikan yang tinggi tidak menjamin kesuksesan. Kadangkala orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi dapat sukses dalam kehidupan. Karena yang penting adalah sikap mau belajar, bekerja keras, kreatif, fokus dan ulet. Hal itu pula yang dialami oleh pria bernama lengkap Lucky Danna Aria yang kini menjadi pengusaha sukses di bidang pembuatan jam tangan dari kayu.

Kerajinan Gelas Lukis Sukses Bisnis Manis



Sukses itu datangnya bisa dari darimana saja. Termauk bagi Dyah Rachmawati, adalah pengusaha wanita sukses berkreasi berkat gelas. Dia berpikir diluar kotak, kreatifitas ditambah ketekunan. Menjadi seorang pengusaha kerajinan tangan berupa gelas lukis. Ya, bisnisnya seperti sepatu lukis tapi ini dilukis diatas gelas, tentu ini lebih sulit karena medianya. Lantas bagaimana kisahnya? Bagaimana bisnisnya ini berjalan hingga akhirnya sukses meraih omzet Rp.10 juta per- bulan.

Mochamad Musa, Perajin Perak Spesialis Berdesain Etnik, Sempat Gagal Bisnis Kuliner di Jogjakarta



Dia mulai menekuni bisnis perhiasan sebagai tenaga pemasaran. Baru belakangan belajar membuat desain sendiri. Kini sebuah rumah produksi telah didirikannya. Kerajinan perak buatannya pun dikirim hingga ke Amerika dan Australia.