
Teori Sistem Dunia dalam Pembangunan Nasional Indonesia
Teori
Sistem Dunia dalam Pembangunan Nasional Indonesia
Pengritik menuduh bahwa analisis-analisis sistem dunia
tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap perkembangan yang khas dari
satu lokalitas yang ada. Dengan kata lain para pemerhati teori sistem dunia
dalam usahanya untuk mengamati dinamika global, mengabaikan bahkan melupakan
analisis sejarah perkembangan local yang konkret. Sesungguhnya Teori sistem
dunia tetap terbuka peluang untuk menguji sejarah perkembangan nasional dan
local, walaupun perhatian teori sistem dunia diletakkan pada pengujian dinamika
global, ini tidak berarti konfirmasi larangan bagi peneliti yang menggunakan
perspektif ini untuk menguji arah dan sejarah pembangunan local, nasional,
maupun regional. Penelitian yang berskala nasional ataupun local, jika
menggunakan pendekatan sistem dunia justru ditemukan penjelasan baru dan segara
dan persoalan-persoalan yang using atau lama.
Pengritik menuduh bahwa wallerstein hanya menggunakan
analisis stratifikasi sehingga tidak mampu menjelaskan bagaimana pengaruh
konflik kelas terhadap arah dan hasil pembangunan nasional. Dalam menanggapi
kritik ini Wallerstein mengatakan bahwa saya berfikir Gerakan kelas tidak hanya
merupakan sentral dinamika kapitalisme tetapi lebih dari itu secara pribadi
saya melihatnya sebagai bagian yang sangat penting dan pokok berisi tentang
penjelasan mengapa Gerakan kelas kadang-kadang memiliki bentuk yang berbeda dan
bahkan kadang-kadang Nampak mencolok. Belakangan ini nampaknya Wallerstein
lebih menyadari pentingnya analisis gerakan kelas bersekala dunia yang dari
padanya diharapkan para buruh, yang merupakan produsen langsung dari barang-barang
yang di hasilkan, mengarahkan perhatian langsung pada sumber surplus ekonomi
yakni pada titik produksinya. Wallerstein dalam pengertian kelas dilihat
sebagai satu kelompok aktor politik yang secara sadar hendak selalu
mempromosikan kepentingan mereka dalam
tatanan dunia kapitalis. Perspektif sistem dunia ini diharapkan mampu
menguji perkembangan sejarah local, dan kemudian mencoba tetap menangkap makna
dari kelas sosial yang selalu, dan memang demikian halnya diartikan sebagai
salah satu penentu dari proses dan dinamika sejarah.
A. Kondisi
Bangsa Indonesia
Keadaan bangsa Indonesia merupakan salah satu Negara
tropis yang memiliki luas daratan sekitar 191 juta hektar, terotori laut
sekitar 317 juta hektar, memiliki posisi strategis di mana jumlah
pulau 13-17 ribu dengan garis pantai terpanjang di dunia sekitar 81.000
km, penduduk 240 juta jiwa, dengan
kekayaan alam yang terbaru maupun tidak terbarukan seperti minyak bumi,
aluminium, emas, gas alam,tembaga, batubara, nikel, besi dan lain-lain.
Kemudian memiliki kekayaan alam laut
yang terbaik di dunia, dan
keanekaragaman hayati nomor 2 di dunia yang jika digabungkan dengan
kekayaan alam laut menjadi nomor 1 di
dunia, potensi tanaman pangan 800 spesies dan juga 1000 spesies tanaman
medisinal.
Dengan melihat gambaran kondisi tersebut tentunya akan
besarnya bangsa ini dapat terwujud dengan ekspektasi sebenarnya, namun dengan
melihat keadaan sekarang yang ada malah sebaliknya kita lihat bangsa kita
hingga sekarang ini menjadi bangsa yang tertinggal dibandingkan dengan negara
lain yang berkembang dan maju, hingga hari ini jangankan untuk bersaing dengan
negara-negara besar dunia pertama dan kedua untuk negara dunia ketiga khususnya yang ada di kawasan Asean indonesia
sudah tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga semisal Thailand,
Brunai, Vietnam, Malaysia, terlebih lagi Singapura menurut data terakhir UNDP
menepatkan sebagai negara terkaya
keempat di dunia saat ini.
Mungkin pertanyaan sering muncul di dalam benak kita
masing-masing, lantas ada apa dengan negara kita? Bahwa bagaimana negara kita
tidak mampu untuk bangkit mambangun baik dari mental bangsa dengan potensi yang
telah digambarkan maupun itu secara fisik. Beberapa tokoh bangsa memberikan
pendapatnya seperti mantan wakil presiden Jusuf Kalla, yang berpendapat bahwa
upaya bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterbelakannya harus dimulai oleh
kepemimpinan/leadership yang tegas dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang
sifatnya membangun semangat warga negara untuk sadar akan posisinya sebagai
pilar penting pembangunan. Pendapat lain dari Gubernur DKI Jakarta Anies
Baswedan Menurut
Anies, ada beberapa komponen bagi pemuda yang ingin mewujudkan kebangkitan
bangsa ini. Komponen yang dimaksud oleh Anies terdiri dari karakter, literasi,
dan kompetensi. Anies menerangkan bahwa pemuda setidaknya memiliki dua
karakter, yakni karakter moral dan karakter kinerja. Selain karakter, Anies
juga mengatakan bahwa pemuda harus melek literasi. “Sering-seringlah membuat
karangan, karangan itu menumbuhkan imajinasi, kita sering kekurangan imajinasi.
Pendapat lainnya dari Syamsul Ma’arif (Tabloid Nasdem), yang beranggapan bahwa
bangsa indonesia sudah tidak lagi melihat UUD 1945 sebagai dasar arah
pembangunan, di mana yang terjadi menurutnya bahwa beberapa kewajiban-kewajiban
pemerintah yang ada pada beberapa pasal sudah tidak dijalankan lagi oleh pemimpin-pemimpin
bangsa ini. Pendapat lainnya dari pakar
hukum pidana Prof.Dr. J.Sahetapi (wawancara Metro TV),beranggapan bahwa masalah
serius yang dialami bangsa ini untuk menjadi bangsa maju ialah karena mental para
pemimpin, aparat yang sudah sesuai dengan norma-norma negara yang ada.
Jika melihat beberapa pendapat di atas bahwa masalah
kepemimpinan sangat mempengaruhi bangsa ini dalam mencapai pembangunan yang
diimpikan di negara ini, selain itu faktor mental khususnya para
pejabat-pejabat pemerintah kita kemudian juga sangat menentukan untuk kembali
menata arah-arah dalam memajukan bangsa. Dengan melihat beberapa fenomena yang
terjadi di bangsa ini maka penulis menyimpulkan bahwa ada beberapa masalah yang
menghambat kemajuan bangsa khususnya dalam bidang pembangunan, yang pertama di
bidang politik bahwa tidak 5 dipungkiri bahwa kompleksitas perpolitikan yang
sedang terjadi di negara ini sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan
pembangunan di Indonesia di mana pengaruh politisasi yang terjadi kemudian melahirkan
kebijakan-kebijakan yang tidak efektif dalam arah pembangunan. Adanya pengaruh
politisasi ini kemudian menjadi suatu ajang jual beli bagi para pihak-pihak
yang memiliki peran ataupun kewenagan yang kuat untuk kemudian mengambil
keuntungan dalam proses kebijakan pembangunan. Mereka kemudian menetapkan
langkah-langkah yang tidak berorientasi pada kepentingan negara melainkan untuk
kepentingan mereka masing-masing. Selanjutnya di bidang ekonomi, walaupun
pemerintah telah mengungkapkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi telah
mengalami peningkatan hingga 6,7% namun sebenarnya itu hanya secara makro,
pemerintah kemudian lalai dalam meningkatkan pemerataan untuk setiap warga
Negaranya, di mana data terkhir BPS bahwa tingkat penduduk miskin indonesia masih
tinggi yakni 34 juta jiwa lebih dari penduduk indonesia sebesar 240 juta jiwa.
Masih
banyak faktor lainnya ialah tingkat penganguran yang masih terlalu banyak di indonesia nampak tidak di
sertai dengan penyediaan lapangan kerja untuk para penganggur di negara kita,
dalam konteks ekonomi bahwa masalah oleh perusahaan-perusahaan asing yang
sangat merugikan bangsa indonesia, di mana pemerintah kita seakan tidak
mempunyai daya upaya untuk membatasi dan
meninjau kembali MOU atau Kontrak kerja dengan pihak asing tentang sistem bagi
hasil, makin parahnya kita dengan kekayaan alam yang melimpah tidak dapat
dimanfaatkan secara maksimal oleh bangsa ini dikarenakan ketidaksiapan dan
ketersediaan putra-putri bangsa dalam mengelola dengan kapasitas baik itu
pendidikan, keterampilan, dan keahlian untuk dapat bersaing dengan
tenaga-tenaga asing yang dimilliki oleh perusahaan swasta. Hal ini tentu
membuat bangsa kita tertinggal jauh dalam hal kemapuan untuk memproduksi sistem
teknologi dalam rangka menghasilkan produk-produk yang berskala industri.
Hal lain bisa kita lihat mental para pemimpin-pemimpin
bangsa, pejabat-pejabat negara dan pegawai-pegawai pemerintahan saat ini yang sangat menghancurkan karakter
bangsa. Banyaknya kasus KKN merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dan
menghacurkan karakter bangsa dengan Pengaruh besar dalam kemajuan bangsa
indonesia itu sendiri. Dana APBN manurut
laporan keuangan Negara yang habis dikorupsi setiap tahunnya mencapai
triliunan lebih. Sangat amat disayangkan sekali bila dana negara kemudian habis
terpakai oleh segelintir oknum yang berorientasi memperkaya diri sendiri
ketimbang memanfaatkan dan itu untuk mengelola beberapa potensi yang ada di
negara ini secara profesional dan proporsional guna menghasilkan suatu
keuntungan besar yang tentunya akan sangat besar, dan beberapa permasalahan
mental lain seperti krisis kepemimpinan untuk para pejabat bahkan pemimpin
negara ini yang menjadikan sebuah masalah besar di indonesia. Aspek lain yang
kemudian menghambat proses jalannya pembangunan secara efektif di indonesia
adalah rendahnya penegakan hukum atau penegakan supermasi hukum di negara ini
sejalan dengan kasus-kasus korupsi yang terjadi bahwa kemudian fakta bahwa
hukum tidak berjalan sesuai dengan norma-norma hukum itu sendiri,adaanya
pembayaran, sogokan dan suap menjadikan hukuman untuk para koruptor di
indonesia sangat ringan, hal inilah yang sangat
disayangkan dalam rangka pencapaian pembangunan khususnya pembangunan
karakter bangsa.
B. Teori
Sistem Duni
Pada awal perumusannya, perspektif sistem dunia banyak
mengambil dan meggunakan konsep dan kategorisasi teoritis yang dikembangkan
oleh teori depedensi, karna itu tidak jarang ilmuwan sosial memberlakukan kedua
perspektif tersebut secara tidak berbeda.
Perbedaan kedua perspektif pembangunan:
1. Unit
analisa perspektif sistem dunia ialah sistem dunia itu sendiri. Yang
menganjurkan dengan tegas bahwa dunia ini haruslah dijadikan unit analisa,
sehingga setiap peristiwa sejarah dunia hendaknya dijelaskan dengan menganalisa
akibat-akibatnya bagi sistem dunia secara total dan juga bagian-bagiannya
(secara holistik). Sedangkan teori depedensi yang memfokuskan analisanya ada
tingkat nasional. Sehingga tidak ada lagi analisa pencirian karakter negara,
melihat kelas dan status sebagai bentuk pengelompokan dalam suatu negara.
2. Analisa
dilakukan dengan jangka panjang dan dalam ruang yang luas, dengan harapan dapat
memberikan klaim integritas dan otonomi relatif atas ruang dan waktu, yang
dimana rentang ruang dan waktu sebagai sistem yang menyejarah (sistem sejarah)
ini merupakan sistem yang mempunyai sejarah, awal tahapan perkembangan dan
penutup. Perspektif sistem dunia mempelajari dinamika sejarah sistem ekonomi
dunia, tidak seperti teori depedensi yang memfokuskan pada masa jaya dan
bangkrutnya suatu negara.
3. Memiliki
satu struktur teori yang unik, yang dimana tidak menggambarkan dunia dengan dwi
kutub namun dengan tri kutub (sentral, semi, pinggiran). Perumusan konsep
semi-pinggiran ini merupakan satu penemuan yang akan membantu dalam memahami
dan menguji kompleksitas dunia, selain itu juga menjelaskan secara sistematis
kemungkinan terjadinya perubahan posisi naik ataupun turun.
4. Dari segi arah dan masa depan pembangunan,
konsep tiga lapisan ini selamat dari tuduhan model yang deteministik dan kaku,
seperti yang dialami teori depedensi yang mengatakan bahwa negara pinggiran
akan selalu ada ditempatnya tidak dapat naik.
5. Perspektif
sistem dunia memiliki arena kajian yang lebih luas dibandingkan teori depedensi
yang hanya berfokus pada negara pinggiran. Yakni mempelajari negara maju,
negara sosialis dan juga kemungkinan disintgrasi dan kehancuran sistem
ekonomi-kapitalis dunia ini.
Berlandaskan pada asumsi bahwa setiap proses ekonomi
taejadi didalam kerangka sistem ekonomi kapitalis dunia. Wallerstein
berpendapat bahwasanya pembagunan dan keterbelakangann suatu wilayah geografis
tertentu tidak dapat dianalisa tanpa meletakan wilayah geografi tersebut dalam
konteks irama siklus dan kecenderungan perputaran ekonomi dunia secara
keseluruhan.
Dikatakan pula bahwasanya dalam sistem ekonomi dunia
memiliki 2 perangkat irama siskus. Pertama memiliki siklus Kondratieff dengan
fase ekspansi-A dan fase kontraksi-B. yang setiap siklusnya kurang lebih
berlansung seitar 40-55 tahun. Kedua memiliki
irama siklus logistik dengan fase
ekspansi–A dan Fase stagnasi-B yang silkusnya lebih panjang kurang lebih
150-300 tahun.
Dengan mengikuti pola pikir tersebut, Wallerstein
menguji akibat yang di timbulkan oleh irama siklus yang terjadi tahun
1450-1750an. Menurutnya ialah ekspansi dan kontraksi pada abad pertengahan terjadi dengan bentuk bangunan yang kurang
lebih merata keseluruh dataran eropa, sementara silkus logistic melahirkan gejala
adanya bentuk bangunan asimetris (ketimbangan) dari berbagai daerah geografis
dibenua eropa. seperti contoh dieropa barat sedang terjadi pergulatan politik
sementara dibelahan eropa timur terjadi sebaliknya bahkan di belahan timur
feodalisme berkempang pesat disana.
Adapun fokus kajian Wallerstein dalam hal ini adalah
lebih memperhatikan pada fase-B yakni
kontraksi dan stagnasi pada abad ke 17 untuk menganalisis munculnya bagunan
asismetris tersebut, ia mencoba menguji bagaimana sutu bentuk fase-B yang sama
dapat memberikan akibat yang berbeda pada tiga daerah geografis sentral,
pinggiran dan semi pinggiran dari tata ekonomi-kapitalis dunia.
1. Daerah
sentral
Wallerstein melihat bahwa konsesntrasi
modal tidak hanya terjadi pada tingkat perusahaan, tetapi juga terjadi pada
skala dunia, yakni pada keseluruhan tata ekonomi kapitalis dunia. Fase-B pada
kiris abad ke 17 ditandai oleh usaha negara sentral seperti Belanda, Inggris
Raya dan Prancis, mencoba menjalankan kebijakan berupa penurunan biaya produksi
dengan meningkatkan teknologi produksi seperti pada produksi tekstil dan
gandum. Akibatnya produk yang melimpah dari negara sentral eropa barat ini
menggeser hasil prooduksi dari negara eropa timur dan selatan. Pada gilirannya proses ini mengakibatkan mengingkatnya
pengpasar negara sentral da pada akhirnya menimbulkan konsentrasi modal pada
negara sentral beserta kerugian dan beban biaya ang harus ditanggung oleh
negara pinggiran.
2. Wilayah
pinggiran
Menurut Wallerstein, negara pinggiran pun
menerapkan kebijaksanaan penekanan biaya khususnya biaya produksi. Jadi negra
pingiran eropa timur ini merupakann pusat perdagangan makanan pokok terbesar
didunia pada masanya, kemudian melakukan kebijaksanaan terkait penurunan biaya
produksi dengan mengunkanan kombinasi kekuasaan ekonomis dan politik yang
mereka miliki terhadap para tenaga kerja di pedesaan . jadi dalam rangka
menaikan produksi produsen melakukan pemberhentian sepihak dari perjanjian
sewa-meyewa tanah dan kemudian memaksa para bekas penyewa tanah tersebut
menjadi budak tenaga kerja paksa, semi paksa atau tenaga kerja upahan.
3. Wilayah
semi pinggiran
Pada
wilayah negara semi pinggiran, Wallerstein membedakan 2 kategori berdasarkan
proses lahirnya. Pertama, lahir dari proses penurunan. Kedua muncul karena
proses meningkatnya possi relatifnya.
Pada negara
semi-pinggiran yang lahir dari proses penurunan seperti Polandia dan Portugis,
mereka mengalami penurunan kapitalis produksinya sekaligus penurunan ppada
peran kekuasaan negaranya. Wallerstein
melihat bahwasaanya Portugis secara ekonomis menjadi satelit dan sabuk transisi
dari kepentingan seperti pada negara Belanda, Inggirs dan Spanyol menjalankan
peran yang sama dengan perancis, yang kemudian melibatkan proses pemindahan
besar-besaran investasi modal dari industry ke pertanian.
4. Wilayah
luar
Secara ringkas, Wallerstein memaparkan
bahwasanya alokasi peranan dari masing-masing negara didalam sistem ekonomi
kapitalis dunia tidak statis. Secara khusus nampaak terlihat pada perubahan
posisi yang secara derastis pada fase-B dimana
ditandai oleh suasana stagnasi secara menyeluruh, dan di sisi lain
terjadi pula kemungkinan terkait
kenaikan konsetrasi modal disuatu wilayah geografis tertentu, yang pada
akhirnya dapat menimbulkan semakin lebarnya plarisasi dan deferensiasi.
C. Sistem
dunia dalam pembangunan indonesia
Teori sistem dunia (TSD) oleh Emmanuel Wallerstain, mengajukan
konsep international division of labor dimana setiap negara memiliki fungsi
masing-masing sesuai dengan posisi mereka di dalam sistem ekonomi dunia.
Menurut TSD struktur ekonomi dunia terdiri atas kelompok negara-negara pusat (core),
semi-pinggiran (semi periphery) dan pinggiran (periphery). Jika melihat dengan
fenomena yang terjadi di Indonesia bahwa TSD sedang berlangsung di Indonesia di
mana negara-negara pusat menguasai dominasi pasar bahan mentah pada skala
global katakanlah Cina, Amerika dan lain-lain yang kemudian memprosesnya
menjadi barang jadi dan mengekspor ke negara-negara lain termasuk indonesia
yang notabene sebagai pengekspor bahan-bahan mentah tadi. Selaian itu juga
dengan indonesia yang merupakan negara semi pinggiran yang sedang berkembang
banyak negara-negara besar yang menempatkan pabrik-pabrik tekstil diindonesia.
Seperti baju bola atau jersey pemain dunia itu banyak sekali yang di produksi
di indonesia, atau baju merek ternama champion dan HnM itu diproduksi di negara
kita indonesia dan ada juga yang kita tau perusahaan besar di papua yaitu PT
Freeport yang bergerak di bidang batu bara. Mungkin satu sisi kita bisa melihat
bahwa kita dirugikan dengan bahan mentah yang diambil dan dikelolah negara
lain, tapi satu sisi lagi kita sadar dengan adanya perusahan-perusahaan besar
yang masuk ke indonesia yang membantu dengan membangun perusahaannya disini
karena kita tidak bisa mengelolah sendiri keterbatasan teknologi maupun sumber
daya yang memadai sehingga dengan adanya perusahaan dan pebrik-pabrik ini
tentunya memberika efek untuk pembangunan indonesia. kita bisa lihat dengan
adanya itu makan sdm bangsa indonesia dapat disalurkan dengan bekerja
diberbagai bidang yang dibutuhkan, selain itu kita juga bisa belajar dan
mengambil ilmu dari negara besar mengelola suatu barang menjadi nilai yang
berharga. Dengan banyaknya. Perusahaan tentunya sudah pasti berdatangan
investor dari negara-negara besar untuk terus membantu pertumbuhan dan
perkembangan pembangunan negara indonesia.
Daftar
Pustaka :
So, Alvin Y Suwarsono. 1994. Perubahan sosial
dan pembangunan. Jakarta : Pustaka LP3ES,
1994.
Budiman,
Arief. (1995). Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta : PT. Gramedia Pustakan
Utama.
Sulistiowati,
Rahayu. Teori Pembangunan Dunia Ketiga Dan Pengaruhnya Terhadap Pembangunan
Nasional.
Maiwan,
Mohammad. Geografi, Geopolitik, Dan Globalisasi: Suatu Analisa Terhadap Teori
Sistem Dunia Immanuel Wallerstein.



