Ade
Suherman
Sudah
20 tahun Ade Suherman, peraji kayu olahan di Kota Tasikmalaya menggeluti
produksi kerajinan seperi boneka, furniture, lantai rumah hingga
meubeler.Kunci supaya usaha langgeng, kata Ade, kreativitas serta inovasi.
Kreativitas sangat ditekankan karena kerajinan mengandalkan keahlian tangan
para pekerja.
Mesin-mesin
hanya berupa alat tambahan yang tidak dengan sendirinya mampu menciptakan karya
yang layak jual. Sedangkan inovasi menyangkut kebaruan sebuah produk. Setiap
waktu trend produk berubah, demikian juga kesukaan pasar cenderung fluktuatif.
Dalam
membuat boneka misalnya, Ade yang membuka workshop di Jalan Leuwianyar,
Kelurahan Sukamanah Kecamatan Cipedes tersebut, selalu membuat tiruan boneka.
Mulai boneka ondel-ondel khas Betawi, hingga boneka Angry Bird kesukaan
anak-anak. Bonek tersebut kemudian ditawarkan kesejumlah pemasok juga dipajang
di berbagai pameran kerajinan.
Sudah
ratusan boneka yang dia bikin. Bukan saja boneka masa kini, boneka pisang,
boneka buah jambu, buah manggis, cabai atau sayuran selalu ia buat.
Kini pasar
utama pasokan boneka produknya hanya Jakarta, yakni boneka ondel-ondel.
Setiap bulan ia memasok sedikitnya 250 pasang ondel-ondel dengan harga
mulai Rp 250.000 per pasang hingga Rp 2,4 juta.
Masa
kejayaan usaha boneka kayu dialami Ade antara tahun 2000-2008 Kala itu dia
mendapat permintaan rutin dari California melalui seorang buyer. Harga satu
boneka kecil dihargai US$ 4,5 atau sekitar Rp 45.000.
“Untuk
pesanan ke California boneka selalu berdasarakan musim. Misalnya, bulan
Februari-Maret boneka sayuran, Mei-Juni boneka buah-buahan, Oktober
boneka halowen dan akhir tahun boneka terkait perayaan natal,” kata Ade belum
lama ini.
Ungkanya,
tertinggi permintaan saat itu mencapai 2500 item. Namun kendalanya, bila
terlalu digonjot produksi, kualitas produk seringkali menurun, karena terkait
kornsentrasi pekerja serta masa pengerjaan yang pendek.
Permintan
dari luar negeri kini sudah terhenti. Adepun mengandalkan order dari para
perajin lain untuk pasokan dalam negeri. Misalnya dari perajin anyaman di
sentra kerajinan Rajapolah. Ade membuat traft atau baki triplek atau dari kayu
sedangkan lapisan anyaman dikerjakan di Rajapolah.
Kini Ade
juga sedang mengerjakan box tissue untuk pesanan di Jakarta. Ia juga mengerjakan
alas lantai kayu. Harga boks tissue satu set mencapai Rp 160.000 dan untuk
lantai kayu per meter Rp 180.000-Rp 400.000/meter persegi tergantung bahan
kayu.
Selain
sebagai perajin, Ade pun tak jarang diundang mengisi pelatihan atau seminar
kerajinan mengolah kayu. Bukan saja di Tasikmalaya tetapi ke luar kota.
Kesulitan
mengolah kayu kata Ade, selaian mesti berinovasi dan kreatifitas juga melatih
keterempilan sumber daya manusia atau para pekerja. Pasalnya, sekokah yang
langsung mengeluarkan lulusan ahli dibidang pembuatan kerajinan kayu belum ada.
Lulusan kerajinan atu seni harus belajar terlebih dahulu sehingga mereka mahir
mengolah kayu menjadi barang yang bernilai tinggi.
Sementara,
untuk bahan baku kata Ade relative gampang. Terkadang dia memanfaatkan
kayu bekas para tukang meubel untuk dijadikan boneka. Meski bila produksi
sekala besar, ia tidak bisa mengandalkan limbah karena menyangkut kualitas
serta ketersesdiaan bahan. “Kami bukan mengolah kayu secara besar-besaran.
Hingga saat ini bahan baku kayu sangat mudah didapat,” katanya.
Ia pun
kini berusaha menciptakan plasma baru. Para pekerja yang selama ini menjadi
buruh dididik untuk mandiri dan hasil produksi ditampung kemudian dijual kepada
para pemesan.
Sumber : http://kisahsukses818.blogspot.co.id/2013/02/pengrajin-boneka-ondel-ondel.html

Tidak ada komentar:
Write komentar